Kesenian

Reog Ponorogo Pertunjukan Penuh Makna

Barongan harimau berhias bulu burung merak yang tengah mengembang terus berputar-putar. Terkadang bulu-bulu itu seperti dikibas-kibaskan. Di belakangnya, ada sepasukan prajurit berkuda (jathil) yang seolah sedang berangkat perang. Tampak pula penari topeng pujangganong, penari kelana sewandana, dan penabuh alat-alat gamelan.

Sementara berjalan di depan laksana pemimpin adalah para warok; laki-laki berbadan gempal berseragam hitam dengan bagian dada terbuka. Wajahnya sangar, dengan kumis dan jambang yang lebat.

Reog Ponorogo Pertunjukan Penuh Makna

Mereka berjalan beriringan sambil menari dengan lincah mengikuti suara gamelan dan teriakan-teriakan “Hok’e…hok’e…Haaaaa..”

Begitulah gambaran iring-iringan pertunjukan reog (kadang ditulis reyog, ejaan lama), kesenian tradisional khas Ponorogo, Jawa Timur. Kendati reog juga eksis di beberapa wilayah lain di Jawa Timur, Ponorogo dianggap sebagai kota asal kesenian reog. Tak heran jika Ponorogo dikenal dengan julukan Kota Reog atau Bumi Reog.

Reog Ponorogo adalah bentuk kesenian yang tumbuh berabad-abad lalu. Menurut Margaret J. Kartomi dalam “Performance, Music and Meaning of Réyog Ponorogo” di jurnal Indonesia No. 22, Oktober 1976, kata “reyog” mungkin berasal dari kata “angreyok” yang ditulis pujangga Prapanca dalam Nagarakertagama. “Angreyok” berkaitan dengan dorongan semangat prajurit, pertunjukan tari reog, perang-perangan, dan mungkin berhubungan dengan pengetahuan militer kuno.

“Meskipun dapat dipastikan bahwa sebagian besar elemen dari reyog Ponorogo memang sudah sangat tua, rujukan paling awal yang diketahui tentang bentuk-bentuk seni yang menyerupai itu terkandung dalam Serat Cabolang, sebuah tembang yang mungkin ditulis di Surakarta pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19,” catat Kartomi.

Serat Cabolang antara lain mengisahkan pengembaraan Cabolang, putra seorang kiai, di Ponorogo. Dia menyaksikan dan ambil bagian dalam sebuah pertunjukan yang mengisi acara sunatan. Pertunjukan itu dimeriahkan 20 penari jaran kepang, lima gendruwon (sebutan lain Pujangganong) –semuanya warok– dengan tiga anak laki-laki kemayu (jathil) di tengah. Pertunjukan diiringi orkes srunen yang terdiri dari slomprit, angklung, kendang, kenong, dan kempul.

Kesenian reog bertahan melintasi waktu. Beberapa penyesuaian dilakukan sesuai perkembangan zaman. Jathil, misalnya, yang semula ditarikan oleh gemblak, lelaki berparas ayu, digantikan penari putri. Gerakannya pun menjadi lebih halus, lincah, dan feminin.

Karena kesenian berusia tua, asal-usul reog Ponorogo punya banyak versi. Ada yang mengaitkannya dengan kepercayaan animisme mengenai adanya roh penjaga dan pelindung suatu wilayah. Karena Ponorogo masih hutan belantara, wujudnya adalah roh harimau. Masyarakat juga meyakini roh harimau mampu mengusir roh jahat atau menolak bala (mengusir wabah penyakit). Untuk mendatangkannya, mereka melakukan upacara adat dengan mengenakan topeng sambal menari. Di kemudian tradisi ini diabadikan dalam bentuk kesenian reog.

Selain itu, ada beragam versi asal-usul reog Ponorogo berlatar kerajaan. Ada dua versi yang popular. Pertama, versi Wengker. Menceritakan Ki Ageng Kutu (Demang Suryongalam), abdi Kerajaan Majapahit, mendirikan padepokan di Wengker serta menciptakan kesenian reog sebagai sindiran dan perlawanan kepada Raja Brawijaya V. Kedua, versi Bantarangin. Mengisahkan lamaran Kelana Sewandana, raja Bantarangin, kepada putri Kediri, Dewi Sanggalangit. Salah satu syarat lamaran adalah dibuatkan gamelan model baru dan manusia berkepala harimau.

Reog Ponorogo Pertunjukan Penuh Makna

“Dua versi kerajaan tersebut mempunyai konsekuensi terhadap tafsir seni drama para pelaku seni reyog Ponorogo,” catat Jusuf Harsono dalam “Hegemoni Negara terhadap Seni Reyog Ponorogo” di jurnal Aristo Vol. 7 No. 2, Juli 2017.

Ada dua ragam bentuk reog Ponorogo yang dikenal saat ini, yakni Reog Obyog dan Reog Festival. Reog obyog, yang hidup di pedesaan, sering pentas di pelataran atau jalan tanpa mengikuti pakem tertentu. Biasanya mengisi acara hajatan, bersih desa, hingga pementasan semata untuk menghibur. Sedangkan Reog Festival sudah mengalami modifikasi dan ditampilkan sesuai pakem dalam acara tahunan Festival Reog yang diadakan Pemerintah Kota Ponorogo sejak 1997.

“Masing-masing ragam memiliki ciri atau kekhasan, terutama terletak pada aspek seni pertunjukan atau pementasannya,” kata Rido Kurnianto dalam Seni Reyog Ponorogo.

Kendati demikian, dari segi perangkat umumnya sama. Ada perangkat barongan yang terdiri dari dadak merak dan caplokan. Dadak merak merupakan bagian atas barongan terbuat dari bulu-bulu burung merak. Sedangkan caplokan merupakan bagian bawah barongan terbuat dari kulit harimau. Perangkat gamelan meliputi kendang, ketipung, ketuk, kenong, kempul (gong), angklung, dan slompret. Sementara busananya meliputi busana warok tua, busana warok muda, busana jatil, busana pujangganong, dan busana kelana sewandana.

Perkembangan reog Ponorogo cukup menggembirakan. Ia menjadi media pembelajaran siswa sekolah dasar hingga menengah atas. Muncul pula “reog santri” di kalangan pesantren yang diwarnai simbol dan nilai-nilai islami.

Menurut Rido, seni reog Ponorogo bukan hanya bernilai seni atau estetika, tapi juga mengandung nilai-nilai luhur. Nilai-nilai itu di antaranya budi pekerti mulia sebagaimana disimbolkan melalui burung merak, keberanian membela kebenaran (harimau), patriotisme/kepahlawanan (tari jathil), optimisme (tari pujangganong), dan kepemimpinan (tari kelana sewandana).

Hingga kini masyarakat Ponorogo terus melestarikan kesenian reog sebagai warisan leluhur.*

Tari Pendet Tari Penyambutan Dewa dan Manusia

Musik gamelan mengalun. Empat penari perempuan berjalan menuju tengah panggung. Mereka membawa bokor (nampan cekung) kuningan yang penuh aneka canang (bunga-bunga) di tangan kanan. Rambut mereka disasak dan dihias dengan rangkaian bunga berbentuk melengkung. Tubuh mereka terbalut kain tradisional Bali berwarna merah dan emas. Sangat anggun.

Tangan mereka bergerak gemulai. Diikuti gerakan halus jari-jemarinya. Kepala bergoyang seirama musik. Mata mendelik. Kemudian mereka bersimpuh dan menaruh canang. Tangan bersedekap lalu berayun ke atas dan bawah, kanan dan kiri. Setelah itu, mereka berdiri lagi membawa canang dan berbaris ke belakang. Pada akhir pementasan, bunga di dalam bokor di taburkan kepada para penonton sebagai ucapan selamat datang.

Itulah tari pendet asal Bali. Begitu tenang, gemulai, dan menghanyutkan. Tari pendet merupakan salah satu tarian selamat datang paling tua di Pulau Bali.

Tari Pendet Tari Penyambutan Dewa dan Manusia

Pada awalnya tarian ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali. Ia dipakai sebagai pelengkap upacara piodalan di pura-pura atau tempat suci keluarga sebagai ungkapan rasa syukur, hormat, dan sukacita saat menyambut kehadiran para dewata yang turun dari khayangan.

Dalam upacara piodalan di pura ada ritus sakral yang disebut mamendet atau mendet. Mendet secara etimologis berasal dari mendak (menyambut). Prosesi mendet dilakukan setelah pendeta mengumandangkan puja mantra dan pementasan topeng sidakarya. Ritus ini bisa dibawakan semua orang, lelaki-perempuan, tua-muda, dengan menari penuh kegembiraan menyambut kehadiran para dewa. Dari prosesi inilah lahir tari pendet.

Ahmad Yunus dalam Ensiklopedi Tari Indonesia Seri P-J menjelaskan bahwa pendet merupakan tarian sajian untuk para leluhur yang disebut Bhatara dan Bruitari. Dipentaskan di halaman pura dan menghadap ke arah suci (pelinggih) di mana Bhatara dan Bhatari bersemayam.

Tari pendet dibawakan para perempuan dengan memakai pakaian adat. Para penari membawa sebuah bokor yang penuh berisi bunga/canang sari, kawangen, dan lain-lain. Sebagian lagi membawa alat-alat upacara seperti sangku, mangkuk perak, kendi, dan lain-lain. Tarian ini dibawakan secara massal, diiringi gamelan gong, dan dipimpin oleh seorang Pemangku (pemimpin upacara) dengan membawa sebuah pasepan (pedupaan) yang penuh dengan kemenyan terbakar.

“Pada bagian akhir tarian, para penari meletakkan alat-alat tadi pada pelinggih, dan ada juga yang menaburkan bunga kepada pratima (simbol dari Bhatara dan Bhatari) sebagai penghormatan,” ungkap Ahmad Yunus.

Anak Agung Gde Putra Agung dalam Beberapa Tari Upacara dalam Masyarakat Bali menggolongkan pendet sebagai tari wali atau sakral yang merupakan bagian dari upacara keagamaan. Sementara ditinjau dari segi gerak maupun karakternya, pendet dapat diklasifikasikan sebagai tari perempuan halus dan tarian massal.

“Penari-penarinya adalah dari kalangan warga desanya dan ada juga merupakan sekehe Pendet yang keanggotaannya diambil dari kelompok keluarga mereka sendiri sebagai suatu tradisi,” jelas Anak Agung Gde Putra Agung.

Lazimnya tari pendet dibawakan oleh para perempuan. Lengkap dengan pakaian adat dan canang berisi sesajian. Tapi di Karangasem, para lelaki juga tampil sebagai penari. Mereka memakai pakaian adat Bali berupa ikat kepala putih, kain saput (selendang), umpal (pengikat selendang), dan sarung tenun.

Secara umum di wilayah Bali, tari pendet melambangkan penyambutan manusia terhadap kedatangan para dewata dari kahyangan. Tapi seiring perkembangan zaman, pendet menjadi tarian untuk menyambut kedatangan sesama manusia. Terutama dipentaskan sebagai bagian promosi wisata Bali.

“Sebagai tari penyambutan, pendet difungsikan untuk menyambut kedatangan tamu atau sering disebut dengan istilah tarian selamat datang. Ungkapan kegembiraan, kebahagiaan, dan rasa syukur diwujudkan melalui gerak-gerak yang lembut dan indah,” catat Siluh Made Astini dan Usrek Tani Utina dalam “Tari Pendet Sebagai Tari Balih-Balihan” di jurnal Harmonia, Vol. 8 No. 2, 2007.

Di Bali, tari berjenis hiburan disebut balih-balihan. Ini kecenderungan umum di banyak tempat. Beberapa tarian lain juga mengalami proses serupa. Yang membedakan hanya pada kapan waktu pergeserannya.

Tari pendet penyambutan lahir tahun 1950. Penggagasnya adalah dua seniman kelahiran Desa Sumertha, Denpasar, yaitu I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng. Keduanya menciptakan tari pendet penyambutan dengan empat penari yang dipentaskan sebagai bagian dari pertunjukan kepariwisataan di sejumlah hotel di Denpasar, Bali. Selain untuk menyambut tamu-tamu penting, tarian ini kemudian menjadi tarian pembuka dalam setiap pertunjukan tari-tarian Bali.

Lalu, pada 1961, I Wayan Beratha mengembangkan tarian ini dan menambah jumlah penarinya menjadi lima orang, seperti yang sering ditampilkan sekarang. Setahun kemudian, I Wayan Beratha dan kawan-kawan kembali mengembangkan tari pendet yang ditarikan secara massal, dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang, dan ditampilkan dalam upacara pembukaan Asian Games di Jakarta.

Setelah itu, tari pendet kerap kali dipertunjukan di bandara atau hotel. Para turis asing di Bali disambut pertunjukan tari pendet setiap kali tiba di Bali. Ketika kembali ke negerinya, mereka bercerita tentang pengalaman disambut oleh perempuan penari yang anggun dan gemulai. Tari pendet pun mendunia.

Sekarang tari pendet masih terus disajikan di berbagai acara penyambutan tamu. Kursus-kursus tari pendet juga dibuka. Tak hanya di Bali, tapi juga di luar Bali. Sungguh membanggakan.*

Kuda Lumping, Sejarah dan Budaya Indonesia

Kuda Lumping

Kuda Lumping, Sejarah dan Budaya Indonesia — Tari Kuda Lumping adalah salah satu tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Ciri khas dari tarian ini adalah sekelompok orang menari dengan bantuan alat peraga kuda yang dirancang khusus untuk para penari.

Tari Kuda Lumping memiliki banyak nama di berbagai daerah, seperti di Jawa Barat Kuda Lumping, Jaranan Buto (Banyuwangi), Jaran Kepang (Surabaya), Jaranan Turonggo Yakso (Trenggalek), Jathilan Hamengkubuwono (Yogyakarta dan Jawa Tengah) dan Jaranan Sang Hyang ( Bali).

Salah satu keunikan yang paling menonjol dari Tari Kuda Lumping adalah kesurupan, yang dilakukan secara bebas dan di bawah kendali seorang pawang. Selain itu, ada juga jimat kekebalan, kekuatan magis, gelas makanan dan lain-lain.

Sejarah Tarian Kuda Lumping

Dilihat dari namanya, kuda lumping adalah jenis tarian yang penarinya menunggangi kuda. Namun, kuda yang sebenarnya tidak digunakan, melainkan kuda mainan yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya.

Tarian ini juga dikenal dengan nama Jathilan atau Jaran Kepang dan berasal dari Ponorogo.

Situs Sejarah Menarik Lainnya:

Asal Daerah Tari Kuda Lumping

Tarian kuda lumping berasal dari Ponorogo, namun banyak yang menjelaskan bahwa tarian ini juga dapat ditemukan di berbagai tempat.

Berdasarkan catatan sejarah, asal mula tarian ini masih simpang siur. Jadi ada 5 versi yang menjelaskan tentang cerita sejarah Tari Kuda Lumping, diantaranya sebagai berikut:

Sudah ada sejak zaman dahulu dimana tarian ini digunakan dalam upacara adat dan ritual magis.

Pada awalnya properti yang digunakan masih sangat sederhana, namun seiring berjalannya waktu semuanya berubah.

Versi kedua ini menceritakan asal mula tari, dimulai dengan dukungan dan apresiasi penuh dari masyarakat umum.

Dukungan ini diterima Pangeran Diponegoro dan pasukannya atas perjuangan mereka melawan dan pengusiran para penjajah.

Dalam versi ini ada yang berpendapat bahwa Tari Kuda Lumping berawal dari pertarungan Raden Patah.

Pendapat ini semacam gambaran perjuangan Raden Patah dan Sunan Kalijaga beserta pasukannya dalam mengusir penjajah di Nusantara.

Tarian ini muncul dari representasi proses pembentukan pasukan perang kerajaan Mataram yang dikomandani oleh Sultan Hamengku Buwono I dalam menghadapi Belanda.

Versi terakhir ini adalah versi yang paling lengkap, yaitu kisah seorang raja yang sangat sakti di Jawa.

Properti Tari Kuda Lumping

Ada beberapa ciri yang digunakan dalam tarian ini, antara lain sebagai berikut:

1. Bambu

Bambu tersebut dianyam dan dibentuk seperti kuda dan kemudian digunakan sebagai tunggangan bagi para penari untuk melakukan aksinya.

2. Pakaian

Pada umumnya kemeja atau t-shirt berwarna cerah digunakan sebagai pakaian. Dan bagian atas penari dilengkapi dengan rompi.

3. Celana

Celana yang digunakan biasanya digunakan menggantung (di atas mata kaki).

Fungsinya untuk memudahkan para penari bergerak, lebih lincah dan bagian pinggul atas ditutupi dengan motif batik.

4. Kaus Kaki

Kaus kaki mengandung sifat yang tidak terlalu wajib untuk digunakan. Fungsinya tidak hanya sebagai hiasan tambahan tetapi juga untuk menghindari bahaya yang tidak terkendali.

5. Gelang

Dalam kesenian Kuda Lumping, gelang hanya berfungsi sebagai hiasan. Desain gelang yang digunakan bermacam-macam, biasa disebut emas atau klinting.

6. Sesumping

Sesumping adalah properti yang digunakan pada telinga penari. Alat ini memancarkan secercah cahaya, bentuknya mirip dengan yang digunakan dalam pertunjukan seni wayang manusia.

7. Apok

Apok ini adalah penutup utama setelah pakaian dan rompi. Bentuknya yang unik dan istimewa menunjukkan keberanian dan kekuatan penari pria.

8. Rompi

Rompi menjadi lapisan antara baju bagian dalam dan apok, biasanya hanya digunakan oleh penari.

9. Tutup Kepala

Tutup kepala ini digunakan sebagai simbol pelindung kepala saat pasukan bertempur di medan perang.

10. Ikan Pinggang Hias

Sabuk hias memiliki fungsi sebagai pengikat untuk mempertegas semua kostum yang digunakan para penari dipadukan dengan busana yang digunakan.

11. Selendang

Selendang juga memiliki fungsi yang sama dengan ikat pinggang dekoratif, yaitu sebagai pengikat dan sifat tambahan.

12. Kacamata hitam.

Fungsi kacamata bukan untuk bergaya, melainkan agar gerakan mata para penari tidak terlihat oleh penonton. Karena mata penari akan terlihat sangat liar selama pertunjukan.

13. Ikat Kepala.

Ikat kepala memiliki fungsi sebagai properti tambahan yang tidak mutlak diperlukan oleh penari. Dan warna ikat kepala disesuaikan dengan kostum yang digunakan.

14. Cambuk.

Hampir semua penari memiliki sifat pecut atau cemeti.

Ada 1 atau 2 cambuk yang panjangnya 2 meter, spesial dan ketika dilempar ke tanah ada suara yang nyaring dan nyaring.

15. Parang tiruan.

Pentingnya harta ini sebagai simbol perlawanan masyarakat adat terhadap penjajah. Parang imitasi ini terbuat dari kayu dengan kombinasi warna lacquer yang berbeda-beda sehingga terlihat seperti aslinya.

Tari Saman, Harmonisasi Gerak Penuh Pujian

Dengan seragam warna-warni, para penari duduk bersimpuh. Secara perlahan, mereka mulai menepuk tangan, dada, dan paha. Sesekali mengubah posisi dengan tubuh bertumpu pada lutut, membungkuk, miring ke belakang, ke kanan, atau ke kiri. Semua dilakukan dengan kompak dan harmonis. Temponya semakin lama semakin cepat. Inilah yang membuat pertunjukan tari saman selalu mengundang decak kagum penonton.

Tari saman adalah salah satu tarian adat asal Aceh. Tarian ini berasal dari dataran tinggi Gayo dan dikembangkan Syekh Mohammad as-Samman, guru tasawuf kelahiran Madinah, pada abad ke-17 Masehi.

Tasawuf merupakan sejenis penghayatan mendalam terhadap Islam lewat berbagai cara yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Ciri khas tasawuf dapat terlihat dari adanya perkumpulan khusus (tarekat) yang terdiri atas guru dan murid. Tiap guru punya cara berbeda dalam mengajarkan tasawufnya.

Syekh Samman memilih berkesenian untuk mengajarkan tasawufnya. Dia membuat sejumlah syair pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad. “Menyusun kata maupun aturan gerak dan sikap badan yang menyertai gerak,” tulis Snouck Hurgronje dalam Aceh di Mata Kolonialis II.

Tari Saman

Sejumlah orang terpikat dengan cara Syekh Samman mengajarkan tasawuf. Mereka menjadi muridnya. Beberapa murid lalu mendapat izin dari Syekh Samman untuk menyebarkan ajaran tasawufnya. Bersama Syekh Samman, mereka menyebarkannya hingga ke tanah Melayu, termasuk ke Gayo, wilayah Aceh.

Tiba di Aceh, syair-syair karya Syekh Samman hidup dan berkembang seiring dengan adat tradisi masyarakat setempat. Orang setempat menyebutnya sebagai “ratib saman” (dengan satu ‘m’). Sekarang orang mengenalnya sebagai tari Saman.

Ketika melakukan praktik ratib saman, Syekh Samman meminta muridnya duduk berjejer dalam beberapa baris. Jumlah muridnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan. Tapi untuk praktik ini, jumlah muridnya biasanya ganjil dan semuanya lelaki.

Mulut mereka merapalkan syair-syair pujian, sementara tangannya menepuk-nepuk dada, paha, dan bahunya sendiri. Dari sinilah terlihat adanya percampuran tradisi setempat dengan ajaran Syekh Samman.

Menepuk tangan termasuk dalam ciri khas tarian-tarian Melayu kuno jauh sebelum kedatangan Syekh Samman. Bukti ini diperkuat oleh catatan Marco Polo, penjelajah Italia, yang pernah mengunjungi Samudra Pasai pada abad ke-13.

Suatu malam, Marco Polo mendengar suara gaduh. “Setelah itu, Marco Polo pergi melihatnya dan terlihatlah sederetan pemuda Gayo sedang bermain saman berderet di atas batang kelapa yang telah direbahkan (dalam bahasa Gayo disebut jejunten),” sebut Rajab Bahry dkk dalam Saman, Kesenian dari Tanah Gayo.

Gerakan menepuk tangan masih bertahan ketika Syekh Samman datang ke Aceh. “Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, Syekh Saman mempelajari tarian Melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya,” catat Resi Septiana Dewi dalam Keanekaragaman Seni Tari Nusantara.

Kelompok tarekat Syekh Samman biasanya menggelar tarian ini pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad atau Maulid. Kelompok ini juga mengisi tari saman dengan pembacaan riwayat hidup Syekh Samman. Tapi kemudian tarian ini berkembang ke berbagai wilayah Aceh dan mulai dipraktekkan di luar hari Maulid.

Isinya pun tak lagi hanya pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad, melainkan juga tentang riwayat tokoh setempat, nasihat hidup, dan pengingat akan adat-istiadat. Pembacaan riwayat Syekh Samman bahkan mulai menghilang di beberapa tempat. Penampilnya pun tak cuma lelaki; perempuan diperbolehkan menari saman.

Pemerintah kolonial Belanda sempat melarang tari saman. Alasannya, mengobarkan perlawanan dan mengandung unsur magi. Kala itu tari saman digunakan para pejuang Aceh untuk mengobarkan semangat rakyat Aceh melawan Belanda.

Lazimnya dalam pertunjukan tari saman, ada seseorang yang berada di posisi tengah. Dia disebut sebagai syekh atau pemimpin pertunjukan. Dialah pencerita sekaligus pengatur tempo dan kecepatan para penampil.

Tari Saman

Tari saman mulai dikenal luas di Indonesia pada 1974. Ketika itu tari saman tampil dalam pembukaan Taman Mini Indonesia Indah. Setelah itu, banyak orang menggelar lomba atau festival tari saman.

Setiap penampil dalam tari saman menggunakan baju adat khas Aceh yang longgar, panjang, dan berwarna cerah seperti merah, kuning, dan ungu. Lengkap dengan sarung dan ikat kepala, baik bagi lelaki maupun perempuan.

Kehadiran Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) turut mengangkat tari saman ke pentas nasional. Para koreografer dari IKJ kerap kali meramu ulang tari saman agar dapat bersanding dengan tarian modern atau kontemporer. Mereka kemudian menampilkan koreografinya di TIM. Banyak pro-kontra tentang pencarian bentuk baru tari saman. Tapi karena itu, tari saman kian dikenal orang.

Meski tari saman sudah berkembang pesat, ada beberapa pakem yang masih bertahan. Antara lain gerakan yang disebut tepok, kirep, lingang, lengek, guncang, dan surang-saring. Unsur pendidikan juga tak pernah lepas dari tari saman.

Sekarang tari saman seringkali dipertunjukan dalam berbagai acara resmi kenegaraan. Banyak sanggar tari juga membuka kelas tari saman. Karena keindahan dan kedalaman pesannya, tari saman tetap bertahan.*

6 Pakaian Adat Melayu Riau

Pakaian Adat Melayu Riau

6 Pakaian Adat Melayu Riau – Pakaian bukan hanya sebagai pelindung dan penutup tubuh, lebih dari itu bahwa suatu busana adalah salah satu ciri khas dan jati diri suatu budaya atau etnis. Bentuk, corak, aksen, dan warna dari suatu busana memiliki esensi yang berakar pada filosofi kehidupan.

Telah ada pada zaman dahulu sebagai suatu bentuk identitas, busana adat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat di suatu daerah. Menjadi salah satu rumpun Melayu di Nusantara, Suku Melayu Riau yang tinggal di tengah Pulai Sumatera ini juga memiliki busana adat yang menjadi ciri khasnya tersendiri.

6 pakaian adat Melayu Riau

1. Baju Kurung Teluk Belanga

Busana adat Melayu Riau yang pertama adalah pakaian yang digunakan oleh kaum pria dewasa suku Melayu Riau yaitu baju Kurung Teluk Belanga. Desain baju yang sederhana dengan satu jenis warna (biasanya berwarna yang tidak mencolok) dengan betuk kerah melingkar dan hanya memiliki satu kancing di bagian kerahnya. Berbahan dasar berupa kain satin dan memiliki lengan panjang, pakaian adat ini juga dilengkapi dengan tiga buah saku di bagian dada sebelah kiri dan di bagian bawah kanan dan kiri.

Baju Kurung Teluk Belanga dipadupadankan dengan celana panjang dengan warna yang senada dengan pakaian atasnya serta dilengkapi juga dengan songkok segi empat atau penutup kepala sejenis kopiah. Kain sarung pendek bermotif juga biasanya digunakan untuk melengkapi penampilan.

2. Baju Kurung Tulang Belut

Untuk kaum wanita suku Melayu Riau, busana adat yang sering digunakan adalah Baju Kurung Tulang Belut. Memiliki warna yang lebih kalem dan tidak terlalu mencolok ditambah desai yang sederhana menjadikan pakaian adat ini sering digunakan oleh kaum wanita Suku Melayu Riau yang sudah lanjut usia.

Sama halnya dengan baju Kurung Teluk Belanga, baju adat inii juga memiliki desain kerah yang melingkar dan memiliki satu kancing namun tidak terdapat kantung di bagian atas pakaiannya. Pakaian adat ini bisa dilengkapi dengan pemakaian bawahan selendang panjang bermotif dan kerudung di bagian kepala.

3. Baju Kebaya Labuh

Masih membahas mengenai pakaian adat yang sering digunakan oleh wanita Suku Melayu Riau, Baju Kebaya Labuh adalah salah satunya. Berbahan dasar dari kain sutera, menjadikan pakaian adat ini sebagai busana yang istimewa dan cantik. Seiring dengan perkembangan zaman, pakaian ini juga sudah dimodifikasi dan masih sering digunakan untuk acara-acara tertentu.

Pada dasarnya, baju ini berbentuk baju terusan panjang namun pada bagian paling bawah kebaya berbentuk agak melebar sehingga baju membentuk seperti labu. Baju Kebaya Labuh biasanya dipakai oleh remaja gadis hingga wanita dewasa Suku Melayu Riau.

4. Baju Kurung Cekak Musang

Seperti halnya desain dari Baju Kurung Teluk Belanga, Baju Kurung Cekak Musang juga sering digunakan oleh kaum pria Suku Melayu Riau. Hal yang membedakan keduanya hanya terletak pada bagian kerah baju, baju kurung ini memiliki kerah yang tegap sedangkan pada baju Kurung Teluk Belangan berbentuk melingkar. Busana adat Melayu Riau modern ini dipadukan dengan celana panjang dan dapat dilengkapi dengan aksesoris seperti kopiah hitam.

5. Kebaya Pendek

Ajaran Islam sangatlah kental terasa pada suku Melayu Riau, hal ini juga yang mempengaruhi desain budaya adatnya. Salah satunya adalah Baju Kebaya Pendek merupakan pakaian yang sering dipakai oleh kaum wanita Suku Melayu Riau di kehidupan sehari-hari. Kain katun adalah bahan dasar pembuatan baju Kebaya Pendek ini dan juga dilengkapi oleh payet-payet sebagai hiasan.

6. Baju Monyet

Untuk anak-anak Suku Melayu Riau, busana adatnya adalah baju monyet anak. Desain pakaiannya tidak jauh berbeda dengan Baju Kurung Teluk Belanga yang terdiri dari baju lengan dan celana panjang yang dilengkapi dengan sarung bermotif pada celana bagian atas dan juga kopiah di kepala.

5 Baju Adat pengantin Jawa Barat

Baju Adat pengantin Jawa Barat

Baju Adat pengantin Jawa Barat – Jika sebelumnya kita pernah membahas tentang pakaian adat pengantin Jawa Tengah, Nah kali ini kita akan membahas tentang  Baju Adat pengantin Jawa Barat Atau pakaian pengantin Jawa Barat yang memiliki perbedaan dengan pengantin adat Jawa Tengah.

Berbicara tentang pakaian adat Jawa Barat, maka yang langsung terpikir adalah tentang pakaian adat Sunda. Suku Sunda adalah suku asli dari Jawa Barat. Jadi pakaian adat Jawa Barat nggak jauh beda sama pakaian adat Sunda. Berikut ini 5 contoh Baju Adat pengantin Jawa Barat yang mungkin bisa kamu gunakan saat acar pernikahan.

1. Baju Mojang Jajaka

Baju Adat pengantin Jawa Barat yang pertama adalah Baju Mojang Jajaka. Ini adalah pakaian adat Jawa Barat yang dahulu dipakai oleh bangsawan dan raja. Terbuat dari kain beludru dengan motif yang lebih simple. Untuk baju pria, model beskap yang dikenakan tanpa ada motif benang emas yang mencolok.

2. Bedahan

Baju Adat pengantin Jawa Barat yang kedua adalah Bedahan. Pakaian adat satu ini adalah salah satu baju adat kebanggan Suku Sunda. Dahulu baju ini adalah dikenakan oleh para pedagang dan atau pengusaha.

Baju Bedahan wanita adalah kebaya dengan sedikit perbedaan model yang dikenakan adalah  pendek di bagian depannya. Kancingnya bukan di bagian tengah, melainkan di bagian pinggir dan hanya berupa kancing pengait saja.

Untuk pakaian pria biasa mengenakan setelan jas berwarna putih dengan kemeja putih bagian dalam. Biasanya ada tambahan seperti menggunakan dasi kupu-kupu hitam. Pemakaian bawahan berupa kain batik atau jarik serta warna yang dipilih adalah perbedaan yang mencolok dari keduanya. Baju Bedahan mayoritas menggunakan bahan yang berwarna terang.

3. Kebaya Sunda Untuk Pengantin Wanita

Jika dibandingkan dengan kebaya pengantin tradisional atau adat lainnya, model kebaya adat Sunda adalah yang paling simpel sehingga kerap dikenakan oleh mereka para pengantin wanita mski bukan berasal dari Jawa Barat.

Baju Adat pengantin Jawa Barat khususnya model kebaya pengantin adat Sunda  ini terinspirasi dari busana putri kerajaan Sunda pada zaman dahulu. Meski kini sudah banyak dimodifikasi agar terlihat lebih modern dan menarik, kebaya adat Sunda umumnya terbuat dari bahan brokat dengan warna-warna terang seperti putih, krem, atau kuning.

Kebaya adat Sunda memiliki bentuk seperti kebaya brokat panjang hingga kaki yang dipadukan dengan kain batik khas Jawa Barat atau yang dikenal dengan sebutan kain Kebat Dilepe.

Baju Kebaya pengantin adat Sunda yang kerap didominasi warna putih membuatnya identik dengan kesan busana pengantin. Karakter inilah yang membuat kebaya adat Sunda kemudian digunakan oleh banyak orang, termasuk yang tidak berasal dari Sunda.

4. Beskap Untuk pengantin Pria

Yang keempat dari pakaian adat pengantin Jawa Barat adalah Beskap. Pakaian ini merupakan nama dari baju atasan orang Jawa Barat. Bentuknya menyerupai jas, tapi sebenarnya bentuknya menyerupai kemeja lengan panjang. Bahannya tebal dan biasanya ditambah dengan jam emas rantai di saku sebelah kiri.

Beskap ini pun juga identik dengan warna hitam, namun ada juga yang mengenakan dengan warna lain. Namun tidak meninggalkan kesan menarik dan menawan dari pakaian adat yang satu ini.

5. Jas Beludru Untuk pengantin Pria

Jas ini sering dipakai oleh raja-raja Sunda pada jaman dulu sebagai baju kebanggaan. Kainnya terbuat dari beludru sehingga kesannya mewah dan mengkilap. Untuk laki-laki dan perempuan mengenakan bahan beludru ini.

Kebaya beludru yang dipakai oleh para bangsawan atau masyarakat dengan kelas sosial tertinggi bisa kalian lihat pada baju yang dipakai oleh wanita terhormat pada sejarah seperti contohnya R.A. Kartini yang kebanyakan berwarna hitam.

Kemewahan kain beludru pada jenis pakaian adat Jawa Barat untuk kaum bangsawan ini kemudian ditambah dengan motif benang sulaman yang berwarna gold atau emas. Cakep banget deh pokoknya.

Perlengkapan atau aksesoris yang dipakai oleh pria Jawa Barat dari kaum bangsawan adalah blangkon motif batik yang ada kerlipnya. Adanya tambahan bros di bagian depan menambah keindahan pakaian ini. Untuk wanita pun juga memakai bros besar di bagian depan. Ujung atas kancing sebagai penutup ujung kerah juga.

Selain dari beludru dan benang emas, kebaya untuk wanita bangsawan pun juga trebuat dari kain beludru ditambah dengan manik-manik. Sama-sama memberi kesan mewah dan menawan.

5 Baju Pengantin Adat Jawa Tengah

Baju Pengantin Adat Jawa Tengah

Baju Pengantin Adat Jawa Tengah – Hal yang paling yang diperhatikan saat resepsi pernikahan adalah baju pengantin kedua mempelai. Baju pernikahan yang dipakai bisa berasal dari berbagai suku dan agama.

Seperti yang diketahui, negara Indonesia memiliki banyak pulau dengan kebudayaan yang berbeda – beda tak terkecuali pulau Jawa.

Pulau Jawa merupakan salah satu pulau Indonesia dengan populasi yang paling banyak dan padat.

Jika kita berbicara tentang Jawa Tengah, maka tidak lepas dari budaya dan kesenian yang melekat pada daerah ini.

Dalam artikel ini kita akan membahas 5 Baju Pengantin Adat Jawa Tengah yang dapat menjadi inspirasi bagi pembaca yang ingin melangsungkan pernikahan namun bingung pakaian apa yang dipakai

1. Jawi Jangkep

Baju Pengantin Adat Jawa Tengah yang pertama adalah baju Jawi Jangkep.

Baju adat Jawa Tengah yang kerap dipakai oleh pasangan pengantin yang mengangkat tema Jawa Tengah termasuk salah satunya pernikahan Putri Presiden Indonesia.

Bapak Joko Widodo yaitu Kahiyang Ayu mengenakan pakaian yang berbalutkan baju beskap hitam yang dipadukan dengan kain batik atau jarit sebagai bawahan.

Ada 2 macam motif pilihan beskap yang biasa dikenakan oleh pengantin Jawa Tengah yaitu beskap berwarna hitam dan beskap motif meriah, biasanya motif yang digunakan adalah motif bunga.

Namun untuk motif yang meriah, biasa dikenakan oleh abdi dalem atau masyarakat kaum menengah.

Untuk pemakaian kedua baju beskap ini memiliki fungsi dan situasi yang berbeda.

Untuk menghadiri acara formal, maka beskap yang digunakan adalah beskap berwarna hitam dengan hiasan bros atau jam rantai di bagian saku.

Untuk acara biasa, maka yang dikenakan adalah beskap motif dengan kain yang lebih tipis.

Untuk melengkapi penampilan pria Jawa Tengah, mereka mengenakan blangkon, sandal selop serta keris dan roncean melati yang indah.

2. Kebaya Khas Jawa Tengah

Baju Pengantin Adat Jawa Tengah selanjutnya adalah Baju Kebaya. Walaupun terdengar sangat umum, namum kebaya ini memiliki kekhasan tersendiri.

Untuk kebaya Jawa Tengah ini memiliki dua mode kebaya yang wajib diketahui, yakni kebaya baju dan kebaya kemben ( baju tanpa lengan, hanya menutupi tubuh sampai dada saja).

Untuk permaisuri raja akan mengenakana baju kebaya tertutup dengan bahan beludru hitam.

Sedangkan untuk kemben sendiri, kebanyakan dipakai oleh dayang atau para abdi keraton.

Namun keduanya dapat di kombinasikan. Kemben sering juga dipakai sebagai baju dalaman, lalu kemudian memakai baju kebaya.

Aksesoris yang digunakan untuk menghiasi diantaranya adalah konde, perhiasan, kipas, dan gelang lengan untuk mode kebaya kemben dan juga gelang kaki jika acaranya adalah untuk kostum menari.

3. Karigaran

Baju Pengantin Adat Jawa Tengah yang ketiga adalah Karigan. Ini adalah salah satu nama pakaian adat Jawa Tengah yang digunakan oleh para pengantin.

Ciri khas dari pakaian ini adalah pada songkok yang panjang. Dahulu pakaian adat ini dikenakan oleh raja.

Pakaian Jawa Tengah kebanyakan menggunakan bahan baju dari beludru juga sangat mendominas model baju dari Jawa Tengah ini.

Kain beludru memang memberikan efek mengkilat yang mewah dan elegan pada pakaian.

Hitam dengan motif dari benang emas juga menjadi identitas utama dari baju adat Jawa Tengah ini.

Untuk bawahan yang digunakan disebut dengan kampuh atau dodotan. Dodotan ini lebih berwarna dan pemakaiannya nggak hanya dengan dililit saja, tapi juga dislampirkandi tangan.

Jadi ada bagian ekor yang disisakan dan kemudian dipegang dengan dislampirkan di lengan.

4. Basahan, Baju Pengantin Adat Jawa Tengah

Selanjutnya adalah Basahan. Pakaian ini sering digunakan oleh pengantin yang mengangkat adat Jawa Tengah.

Untuk pengantin wanita menggunakan Sanggul bernama Paes Ageng dan peci pengantin laki-laki tinggi menjulang.

Kalau sebelumnya, baju adat laki-laki adalah Beskap, Surja, atau Batik. Berbeda lagi jika temanya adalah Baju Basahan.

Maka di pengantin pria tidak mengenakan pakaian alias bertelanjang dada. Untuk kain batik yang dipakai antara kedua pengantin adalah sama motifnya.

Pengantin wanita memakainya sebagai kemben, dan pria memakainya sebagai Dodotan.

5. Baju Batik

Baju Pengantin Adat Jawa Tengah yang terakhir adalah Batik. Ini adalah pakaian yang paling digemari dari pakaian adat Jawa Tengah yang dipakai oleh pria dan wanita.

Pakaian ini sangat elegan dan sudah bukan rahasia umum jika pakaian ini mendunia. Selain itu pakaian ini dapat dikenakan untuk berbagai acara dan kegiatan.

Kebanyak para pria mengenakannya dalam bentuk kemeja lengan panjang atau pendek.

Sedangkan wanita akan mengenakannya dalam bentuk dress atau baju atasan. Untuk bawahannya dapat dipadukan sesuai keinginan.

Untuk  wanita dapat dipadukan dengan rok atau celana. Untuk pria, dapat dipadukan batik dengan celana hitam kain, sarung, atau jeans.

Untuk aksesoris yang dikenakan pun bebas seperti kalung, gelang, jam tangan, atau bros. Untuk laki-laki juga dapat mengenakan songko.

Adapun pemakaiannya adalah saat acara formal maupun non formal.

Tari Sulintang Jawa Barat, Tarian Yang Menggambarkan Semangat Persatuan

Tari Sulintang Jawa Barat

Tari Sulintang Jawa Barat – Jawa Barat dikenal sebagai Provinsi  yang memiliki semboyan silih asah, silih asuh dan silih asihSilih asah memiliki arti saling mengingatkan, silih asuh memiliki arti saling membimbing dan silih asih memiliki arti saling mengasihi.

Jawa Barat juga kaya akan pesona alam atau tempat wisata maupun kental dengan nilai-nilai budaya yang masih dijunjung tinggi. Mulai dari makanan khas, alat musik, hingga tari-tari yang berasal dari Jawa Barat masih dilestarikan oleh masyarakatnya.

Ada berbagai jenis tarian tradisional yang berasal dari daerah Jawa Barat seperti Tari Jaipong, Tari Merak, Tari Topeng, Tari Wayang, Tari Ketuk Tilu, Tari Buyung dan masih banyak tari lainnya. Termasuk tarian kreasi modern salah satunya adalah Tari Sulintang.

Berikut tentang penjelasan Tari Sulintang, tari kreasi baru yang berasal dari daerah Jawa Barat.

Asal Usul dan Sejarah Tari Sulintang

Tari Sulintang adalah tari kreasi baru yang berasal dari daerah Jawa Barat. Tari Sulintang ini adalah tarian yang diciptakan oleh sang maestro seniman besar dan koreografi tari, Raden Tjeje Somantri atau yang memilki nama lengkap Raden Rusdi Somantri namun kemudian lebih akrab dipanggil dengan nama Tjeje. Raden Tjeje Somantri menciptakan Tari Sulintang pada tahun 1948.

Raden Tjeje Somantri tidak hanya menciptakan Tari Sulintang saja, namun beliau sudah banyak menciptakan kreasi tari modern atau baru yang sampai saat ini masih diajarkan di sanggar-sanggar seni hingga perguruan tinggi dan sekolah kesenian. Di antara tarian kreasi yang diciptakan oleh Raden Tjeje Somantri adalah Tari Sekar Putri, Tari Kandagan, Tari Kupu-kupu, Tari Ratu Graeni, Tari Koncaran, Tari Birayung, Tari Puragabaya dan masih banyak tari-tari yang diciptakan oleh Raden Tjeje Somantri.

Tari Sulintang ini dipengaruhi dari berbagai kebudayaan selain dari budaya Sunda yaitu Bali, India, Jawa hingga Burma.  Tari Sulintang tersuguhkan bersama dengan Tari Merak, seakan keduanya saling menggambarkan alur cerita.

Jika Tari Merak menggambarkan dan mengedepankan keelokan serta merefleksikan pesona untuk memikat lawan, Tari Sulintang menggambarkan keindahan dan persatuan agar memperoleh pengakuan dari masyarakat.

Sekilas tentang Raden Tjeje Somantri, Pencipta Tari Sulintang

Tari Sulintang memang tidak lepas dari salah satu pelopor tari kreasi baru yang ada di bumi pasundan, Raden Tjeje Somantri. Raden Tjeje Somantri ini lahir di Purwakarta pada tahun 1892 dan meninggal di Bandung pada tahun 1963 dalam usia 71 tahun.

Dalam kesenian, beliau mempelajari seni tari sejak usia muda. Dan ada berbagai jenis tari yang dipelajari dan didalami oleh Raden Tjeje Somantri. Dan pada tahun 1930, beliau mendapat banyak petunjuk tentang kepenarian Jawa dari R.M. Sutignja, lalu belajar berbagai tarian Jawa. Hingga kemudian menjadi salah satu pengajar tari di BKI.

Dalam wadah kesenian itulah beliau berkreativitas dan mulai banyak menciptakan gerakan-gerakan tari, termasuk terciptanya Tari Sulintang pada tahun 1948. Atas jasa-jasa dalam bidang seni tari, Raden Tjeje Somantri mendapat anugerah seni berupa Piagam Wijaya Kusumah dari Pemerintah Indonesia.

Makna dan Filosofi Tari Sulintang

Seperti yang sudah diketahui, Tari Sulintang ini dipengaruhi dari kebudayaan Bali, India, Jawa dan Burma, memiliki nilai-nilai budaya dari beragam daerah. Namun, Tari Sulintang memiliki makna tarian yang menggambarkan semangat persatuan Indonesia. Seakan mencitrakan tentang keberagaman yang ada di Indonesia pada dunia.

Nama lain dari Tari Sulintang ini adalah Damar Kanginan.  Damar Kanginan mengandung arti yang berarti api pelita yang tertiup angin sepoi atau semilir angin. Dinamakan dengan nama Damar Kaningan, karena gerakan dari Tari Sulintang ini lincah namun halus, walau pun penuh dengan dinamika, tapi terlihat tetap tenang. Tarian Sulintang diiringi dengan gamelan tradisional sunda dan juga suara dari sinden.

Pertunjukan Tari Sulintang di World Dance Day 2016

Tari Sulintang menjadi tari kreasi ciptaaan seniman besar Raden Tjeje Somantri yang syarat akan makna dan filosofi. Dengan gerakan halus namun lincah, Tari Sulintang bahkan sudah pernah tampil dan dipertunjukan Internasional!

Salah satunya adalah di perhelatan World Dance Day 2016 lalu untuk memperingati hari tari dunia, yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Dalam acara ini, Tari Sulintang dipertunjukan dengan tujuh pernari dari sanggar Wirahma Bandung dengan diiringi gamelan sunda dan sinden.

Dalam perhelatan ini, menurut seniman dan budayawan, Gatot Gunawan, Tari Sulintang sengaja ditampilkan di akhir acara karena memiliki unsur yang sakral dan kental. Di masa lalu, tarian biasa dipakai dalam ritual-ritual masyarakat sebagai penghubung dengan sang pencipta.

Nah, itu dia tentang pembahasan mengenai Tari Sulintang, tari kreasi yang berasal dari Jawa Barat. Tentunya, dimana pun kamu berasal, tetap menjaga kelestarian kebudayaan yang sudah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang, ya!

7 Kesenian Tradisional Khas Bali yang Belum Banyak Orang Tahu

Kepopuleran Bali sebagai daerah tujuan wisata dengan kekayaan alam dan keseniannya tak perlu diragukan lagi. Tapi, ternyata ada beberapa kesenian tradisional khas Bali yang masih belum banyak orang ketahui secara detil, lho. Penasaran? Berikut informasi lengkapnya.

Pengaruh Terbentuknya Kesenian Khas Bali

Provinsi Bali atau yang dikenal juga dengan sebutan Pulau Dewata memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya. Kepopuleran Bali bahkan kini sudah menyebar hingga ke seluruh dunia. Siapapun yang mengunjunginya tidak hanya menikmati pemandangan wisata, tapi juga menyimak pertunjukan kesenian tradisional khas Bali.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi terbentuknya kesenian khas Bali. Bali sebagai pulau yang letaknya di bagian tengah Indonesia memiliki bahasa daerah yang khas, tidak mirip dengan daerah lain.

Kehidupan warganya sangat memelihara keseimbangan alam. Sedangkan untuk budaya yang mencakup kebiasaan dan kesenian, masyarakat Bali menerima banyak pengaruh dari sejarahnya.

Seperti penguasaan Majapahit pada abad ke-8 sampai abad ke-14 Masehi, kemudian masuknya agama Hindu setelahnya melalui saudagar-saudagar India.

Agama Hindu memiliki pengaruh besar dalam terbentuknya kesenian tradisional khas Bali. Di mana hampir semua kesenian memiliki nilai kesakralan, kesucian, dan unsur religius di dalamnya.

Di tengah zaman modern dengan sektor pariwisata yang makin meningkat, kesenian tradisional khas Bali tidak hanya digelar untuk ritual upacara keagamaan. Tapi juga sebagai pertunjukan yang sifatnya menghibur dan mengedukasi wisatawan.

Daftar Kesenian Tradisional Khas Bali

1. Tari Kecak

Tari Kecak memang sudah populer karena menjadi ikon kesenian tradisional khas Bali. Tapi, apakah kamu tahu detil dari pertunjukan tarian ini?

Tari Kecak ditampilkan oleh puluhan penari laki-laki yang duduk membentuk lingkaran. Gerakan tangan mengarah ke atas sembari menyerukan kata ‘cak’ secara berulang menjadi ciri khas tarian ini.

Tujuan awal dari dilakukannya Tari Kecak adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan dan roh-roh leluhur dalam menyampaikan harapan-harapan. Tari Kecak juga mengisahkan cerita Ramayana. Di mana saat Rama berjuang menyelamatkan Shinta, Rama dibantu oleh puluhan kera untuk melawan Rahwana.

2. Wayang Kulit Bali

7 Kesenian Tradisional Khas Bali yang Belum Banyak Orang Tahu

Wayang kulit merupakan kesenian yang ada di banyak daerah di Indonesia, tak terkecuali juga menjadi kesenian tradisional khas Bali. Pertunjukan Wayang Kulit Bali digelar dengan dua tema cerita, yakni tema hiburan dengan banyolan komedi lucu, dan tema spiritual yang sangat sakral bagi umat Hindu.

Karena penyampaian cerita yang ringan dan dekat dengan masyarakat, penggemar pertunjukan ini masih menarik perhatian hingga kini. Masyarakat kelas bawah, menengah, maupun kelas atas menyukainya.

Wayang Kulit Bali dimainkan oleh dalang profesional yang bercerita sambil menyenandungkan tembang khas Bali. Iringan musik dari alat-alat musik tradisional Bali membuat pertunjukan makin menarik.

3. Arja

Arja adalah kesenian tradisional khas Bali yang mirip dengan opera atau bisa juga disebut sebagai dramatari. Arja yang mengandung cerita panji sudah ada sejak abag ke-18 Masehi.

Pemeran opera Arja menari, menyanyi, dan berdialog sesuai alur cerita. Jenis tari yang ditampilkan pasti tidak asing di matamu, karena tarian itu tidak lain adalah Tari Legong atau yang biasa kita sebut sebagai tari Bali. Di mana wanita atau pria berbaju adat Bali menari dengan gerakan kaku yang khas, dengan lirikan mata yang tajam dan dinamis.

4. Bondres

Berbeda dengan Arja yang bercerita tentang cerita panji yang dekat dengan sejarah, Bondres justru menceritakan sketsa komedi tradisional yang menggelitik perut penontonnya.

Eksistensi kesenian tradisional khas Bali ini masih terbukti hingga kini dengan adanya grup Bondres ternama di Bali. Sebut saja Clekontong Mas, Dwi Mekar, dan masih banyak lagi lainnya.

Untuk menunjang cerita komedi yang dibawakan, pelakon Bondres kerap mengenakan kostum lucu dan topeng. Kisah yang diangkat merupakan kisah sehari-hari yang dekat dengan masyarakat.

5. Tari Legong

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Tari Legong ini biasa kita kenal dengan sebutan tari Bali. Ternyata, Tari Legong sudah ada sejak abad ke-19. Secara etimologis, kata ‘Leg’ berarti luwes, sedangkan kata ‘Gong’ berarti gamelan.

Kesenian tradisional khas Bali ini bercerita tentang kisah cinta Raja Lasem. Gerakan luwes namun tetap dinamis dengan power yang mantap dan gerakan bola mata menjadi ciri khasnya.

Penari Tari Legong menggunakan baju adat khas Bali berwarna emas dengan sentuhan warna merah, serta lengkap dengan sanggul di kepala yang berhiaskan bunga kamboja dan aksesoris kipas.

6. Tari Barong

7 Kesenian Tradisional Khas Bali yang Belum Banyak Orang Tahu

Kesenian tradisional khas Bali yang populer lainnya adalah Tari Barong. Tarian ini sangat identik dengan kebudayaan Pra-Hindu. Kostum penari dan setiap gerakannya merepresentasikan pertarungan Adharma (sifat tidak terpuji) dan Dharma (sifat terpuji).

Dharma digambarkan degan kostum binatang berkaki empat. Sedangkan Adharma digambarkan dengan kostum yang memiliki dua taring runcing.

7. Drama Gong

Terakhir, ada Drama Gong yang merupakan drama tradisional yang pertunjukannya diiringi oleh instrument alat musik gong alias gamelan. Munculnya kesenian tradisional khas Bali ini dipengaruhi karena adanya perpaduan budaya tradisional Bali dengan budaya modern barat.

Keduanya bersatu menampilkan pertunjukan bergaya klasik kontemporer. Ditambah dengan bahasa dialog yang digunakan umumnya adalah bahasa sansekerta, atau bahasa Bali klasik.

Drama Gong mengambil cerita sejarah bertemakan cinta, kisah heroik, dan lain sebagainya. Hanya di hari-hari tertentu dan upacara spesial yang menyertakan pertunjukan Drama Gong ini.

Ragam Hias – Pengertian, Fungsi, Pola, Jenis Motif & Teknik

Pengertian Ragam Hias

Ragam hias atau ornamen adalah berbagai gambar bentuk hias atau motif yang biasanya dibuat secara berulang dan memiliki pola tertentu hingga mengisi seluruh area kosong pada suatu karya seperti bahan kain, guci, furnitur kayu, kulit, dsb. Contohnya, kain batik menggunakan ragam hias dalam motifnya.

Di Indonesia, kesenian ini telah berkembang dari sejak zaman prasejarah. Ragam hias tradisional Indonesia banyak dipengaruh oleh lingkungan alam, flora dan fauna nusantara. Selain itu, setiap budaya juga memiliki ciri khas untuk mengiterasikan alam nusantara dan berbagai kearifan lokal lainnya di masing-masing daerah.

Gambar hias yang diulang berkali-kali mengikuti pola adalah ide kunci dari ragam ornamen. Meskipun aplikasi sebenarnya adalah untuk menghias karya seni lain yang memiliki bidang permukaan kosong seperti kain, furnitur atau guci, belakangan motif dekoratif juga dapat menjadi gaya yang berdiri sendiri dalam suatu karya seni 2 dimensi seperti lukisan dan desain grafis.

Pola Ragam Hias

Ragam hias biasanya memiliki pola atau susunan yang berulang. Semua unsur hias yang ada mengikuti pola tersebut, sehingga ragam ornamen tampak teratur dan terukur. Pola ini juga biasa disebut irama dan dapat memiliki arah dan ukuran yang beragam disetiap gambar hias yang diulang.

Misalnya untuk ragam hias geometris biasanya mengikuti pola arah yang saling menyilang, zigzag atau berputar mengikuti lingkaran. Pola lain dapat sesederhana perulangan unsur hias secara diagonal atau horizontal saja, seperti yang biasa ditemukan di motif kain batik.

Pola hias juga dapat dibuat dengan cara yang tidak teratur, namun tetap diperhatikan keseimbangannya. Misalnya gambar hias pertama dibuat dengan ukuran yang lebih besar, gambar kedua dibuat lebih kecil, kemudian pada pengulangna ketiga dibuat dengan ukuran yang besar lagi.

Fungsi Ragam Hias

Keinginan untuk menghias sesuatu merupakan insting dan naluri manusia. Pembuatan ornamen penghias didasarkan atas kebutuhan masyarakat baik secara praktis maupun estetis hingga kebutuhan ritual kepercayaan atau agama.

Kebutuhan praktis meliputi kebutuhan manusia terhadap benda pakai yang dianggap layak untuk digunakan dalam masyarakatnya. Kain samping harus diberi motif batik agar tampak blend-in dengan masyarakat. Piring harus bermotif bunga agar warung nasi mereka dianggap sekelas dan patut dikunjungi seperti warung nasi lain yang telah sukses sebelumnya.

Sementara itu kebutuhan estetis berarti kebutuhan murni terhadap keindahan dan atau makna simbolik yang dipancarkan oleh karyanya. Terdapat beberapa ragam ornamen (hias) yang memiliki makna simbolis yang mengandung nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya.

Jenis Motif Ragam Hias

Diluar kebiasaan masyarakat Indonesia yang selalu membuat ragam hias yang terinspirasi dari alam, terdapat beberapa jenis motif lain yang bukan diambil dari alam. Jenis ragam motif yang ada meliputi: ragam ornamen floral (vegetal), fauna, figural dan geometris.

Floral (Vegetal)

Motif ini menampilkan ornamen-ornamen yang menyerupai tumbuh-tumbuhan dari dedaunan, rerumputan dan bunga. Bentuk floral sebagai motif yang sangat mudah dijumpai hampir diseluruh pulau Indonesia. Motif ini dapat ditemukan pada barang-barang seni seperti ukiran furniture, kain batik, kain sulam, tenun, border, dll.

Menggambar Motif Floral

Untuk menciptakan motif floral awalnya dapat diambil dari objek tunggal, misalnya daun. Kemudian gambar ulang disebelahnya dan variasikan daun tersebut sesuai dengan imajinasi dan kreativitas kita sendiri. Proses tersebut dapat disebut dengan stilasi.

Fauna (Animal)

Motif fauna adalah gambar hias yang distilasikan dari berbagai binatang seperti cicak, ikan, ayam, harimau hingg ke gajah. Dalam motif tradisional nusantara, biasanya motif ini dipadukan dengan motif flora dan bentuk geometris juga. Motif ini banyak ditemukan pada karya seni batik, ukiran, anyaman, sulaman dan batik.

Motif ini dapat mengandung berbagai kekhas-an lokal daerah tertentu di Indonesia. Misalnya terdapat burung cendrawasih untuk Papua, Komodo bagi NTT dan gajah untuk mewakili lampung. Motif fauna banyak ditemui di Bali, Yogyakarta, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Menggambar Ragam Motif Fauna

Pengertian Ragam Hias

Menggambar motif fauna sebetulnya sama saja seperti motif flora. Hanya saja, binatang bentuknya tidak sesederhana daun, sehingga cenderung harus disederhanakan. Jika fauna yang digambar terlalu mendetail, biasanya kurang tampak menarik untuk dijadikan ragam ornamen.

Geometris

Motif geometris adalah gambar hias yang dibuat dari bentuk-bentuk geometris seperti garis-garis sederhana, segitiga, lingkaran, dsb. Motif ini sering dijumpai di pulau Jawa dan Sumatra. Berbagai motif-motif sederhana itu dapat diatur dengan pola yang teratur dalam irama pengulangan yang dinamis sehingga menghasilkan ragam hias yang estetis.

Menggambar Motif Geometris

Pengertian Ragam Hias

Ragam hias geometris akan memerlukan alat khusus seperti penggaris untuk menggambarnya. Intinya motif ini mengembangkan bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segi empat dan lingkaran. Coba mulai dari bentuk geometris yang berupa garis luar atau outline. Kemudian ulang dan variasikan bentuknya dalam satu pola yang sama.

Berbeda dengan motif fauna yang cenderung harus disederhanakan, motif geometris justru harus dilebih-lebihkan agar tampak lebih menarik sebagai gambar hias.

Figuratif

Motif figuratif adalah hiasan yang dibuat menyerupai sosok manusia dengan penggayaan tertentu, seperti disederhanakan atau sedikit diabstrakan. Ragam hias ini lebih banyak ditemukan pada bahan kain atau tekstil dan ukiran kayu.

Menggambar Ragam Motif Figuratif

Menggunakan gambar manusia sebagai motif terhitung lebih rumit dari yang lain. Karena referensi gambar manusia harus disederhanakan menjadi lebih abstrak (ke-kartun-kartunan) kemudian dilebihkan agar tampak lebih dinamis dan tidak kaku.

Teknik Menggambar Ragam Hias

Menggambar ragam ornamen (hias) harus memperhatikan komposisi, proporsi keseimbangan dan keharmonisannya. Prosedur yang harus dilakukan dimulai dari menentukan jenis, kemudian membuat pola yang ingin digunakan. Lebih jelasnya, akan dijabarkan pada langkah-langkah dibawah ini:

  • Perhatikan pola bentuk yang akan digambar, apakah motif fauna? Flora? Atau geometris?. Persiapkan referensinya, misalnya cari foto bunga dan tumbuhan yang biasa tumbuh di Indonesia untuk sumber inspirasi yang akan distilasikan ke ornamen.
  • Siapkan alat dan media gambar yang dapat menunjang pola bentuk yang akan digambar. Jika ragam ornamen yang akan kamu gambar memiliki detail, ukuran dan arah yang presisi, persiapkan juga penggaris dan pensil yang runcing.
  • Tentukan ukuran pola gambar yang akan dibuat. Salah satu kata kunci ragam hias adalah “pengulangan” maka ukuran pola gambar harus cukup untuk diulang beberapa kali pada media. Misalnya, minimal ada 5-6 jajar pola pengulangan dalam satu kertas.
  • Buat sketsa ukuran dan pola pengulangan yang akan diikuti oleh ornamen berupa beberapa “kotak” atau bidang kosong yang akan diisi oleh gambar hias.
  • Buat sketsa satu bidang ragam hias pada di salah satu kotak/bidang pola yang telah dibuat
  • Selesaikan semua bidang pola yang masih belum terisi
    Terakhir, baru mulai warnai dan rapihkan semua gambar hias yang telah mengikuti pola tersebut.

Kesimpulan

Ragam hias memiliki pola bentuk gambar dan pengulangan yang teratur atau tidak teratur tapi masih tetap seimbang. Pola teratur akan menghasilkan gambar yang rapi, harmonis dan memberikan kesan menenangkan. Sementara pola tidak teratur akan menghasilkan ragam ornamen (hias) yang ekspresif dan dinamis.

Terdapat empat jenis ragam pola hias: (1) Flora, yang berarti motif diciptakan mengikuti bentuk dedaunan, bunga dan tumbuhan lain, (2) Fauna, terinspirasi dari binatang, (3) Geometris, dibuat dari bidang-bidang seperti segitiga, persegi dan lingkaran, (4) dibuat mengikuti wujud manusia.

Kesenian ini banyak ditemukan di Indonesia seperti di pulau Jawa, Sumatra, Kalimatan, Sulawesi, Madura, Bali dan Papua. Beberapa masyarakat Indonesia masih menciptakan ragam hias sebagai penghormatan kepada nenek moyang atau untuk mencari keselamatan hidupnya.

Fungsi dari kesenian ini sendiri meliputi fungsi praktis, fungsi estetis, hingga berkepentingan sebagai simbol dari kepercayaan suatu masyarakat. Gambar-gambar ragam hias dapat ditemukan pada dinding rumah adat, anyaman, kain batik dan benda-benda kerajinan atau kriya lainnya.

Batik Kekinian dari Jepang : Batik Shibori

Temen-temen ketika ke Jogja kebanyakan berburu batik tulis khas Jogja. Namun saat ini ada juga lho batik yang banyak diproduksi oleh pengrajin/pekerja seni Jogja. Batik Kekinian dari Jepang : Batik Shibori. Produk ini bisa teman-teman jadikan oleh-oleh ketika berlibur ke Jogja.

Bagi pegiat seni dan tekstil, shibori bukanlah hal yang baru. Meskipun seni pewarnaan ini berasal dari Jepang. Shibori berasal dari kata ‘shiboru’, yaitu tekhnik pewarnaan kain yang telah diikat, kemudian dicelup ke pewarna. Motif dari pewarnaan sibori ini mirip dengan batik, sehingga seringkali disebut batik sibori. Namun pengerjaan batik shibori lebih mudah dan sederhana dibanding batik tulis. Konon batik shibori ini telah ada sejak beberapa ratus tahun lalu. Bahkan pewarna alaminya dari shibori ini mampu bertahan 600 tahun lamanya.

Motif Shibori

Batik Shibori

Batik Kekinian dari Jepang : Batik Shibori ini memiliki motif yang berbeda-beda, dibutuhkan tekhnik pembuatan yang berbeda. Berikut adalah tekhnik pembuatan shibori :

  • Miura Shibori

Tekhnik ini paling mudah untuk pemula karena hanya mengikat beberapa utas benang pada kain, tanpa perlu menyeragamkan bentuk dan ikatan.

  • Kanoko Shibori

Adalah tekhnik pembuatan kain shibori dengan pengikatan pada bagian tertentu secara acak. Sebelum diikat, bisa dilipat terlebih dahulu. Tekhnik penggabungan ikatan dan lipatan ini akan menghasilkan motif berupa bercak.

  • Arashi Shibori

Untuk membuat motif ini anda memerlukan pipa yang berbentuk diagonal. Caranya, kain dililitkan dalam pipa. Lilitannya tidak perlu terlalu erat. Saat jadi tekhnik ini akan mengasilakan motif badai yang indah.

  • Itajime Shibori

Untuk membuat motif ini diperlukan dua buah kayu, stik es krim yang panjang juga bisa digunakan dalam tekhnik ini. Kain yang akan diwarnai dijepit menggunakan 2 buah stik eskrim yang diikat dengan karet atau benang. Motif yang dihasilkan akan berbentuk kotak atau segitiga.

  • Kumo Shibori

Ini adalah tekhnik yang paling sulit karena mengharuskan kita mengikat kain sedemikian rupa, sehingga motif yang dihasilkan menyerupai jarring laba-laba.

Cara Membuat Shibori

Itulah tadi motif-motif yang dihasilkan dari berbagai penggunaan tekhnik pembuatan kain shibori. Sebenarnya kita bisa juga membuat kain shibori itu sendiri. Caranya:

Siapkan bahan-bahan

Kain katun primisima

  1. Pewarna
  2. Water Glass
  3. Stik Eskrim
  4. Karet Gelang
  5. Sarung Tangan

Caranya

  1. Lipat kain berbentuk segitiga, tapi tidak boleh lebih panjang dari panjang stik es krim
  2. Jepit kain menggunakan stik es krim, dan kencangkan menggunakan karet
  3. Gunakan sarungtangan, celup kain di air dan peras
  4. Celup kain sesuai motif yang di inginkan pada ember pewarna dan peras
  5. Tiriskan
  6. Basahi kain yang sudah diberi pewarna dengan water glass
  7. Bilas dengan air biasa
  8. Buka lipatan dan jemur

Mudah bukan.

Bagi teman-teman yang masih bingung, bisa belajar bersama kami untuk membuat kain Shibori ini. Cukup datang ke Wisata Rumah Jiwa. Lokasinya berada di Gambiran, RT 11, Blawong 2, Trimulyo, Jetis, Bantul. Temen-temen bisa reservasi dulu juga dengan menghubungi hotline di nomor 085327966727.

Macam-macam Batik Shibori

Batik Shibori

Halo sahabat wisata, kembali lagi di web wisata rumah jiwa. Kalian tau batik ? yaa… batik. Batik adalah maha karya yang berasal dari indonesia terumata Jawa. Sejarah batik begitu panjang sehingga masuk dalam salah satu warisan kebudayaan dunia yang berasal dari Indonesia. Nah di indonesia sendiri akhir -akhir ini berkembang yang namanya Batik Shibori. Yuk berkenalan dengan macam-macam Batik Shibori

Shibori sendiri berasal dari kata kerja ‘shiboru’ yakni merupakan teknik pewarnaan kain yang mengandalkan ikatan dan celupan. Motif yang dihasilkan seringkali tak jauh berbeda dengan batik dengan proses pengerjaan lebih sederhanan dari pada proses membatik tulis menggunakan canting.

Apa itu Batik Shibori?

Shibori sendiri adalah kesenian dari Jepang, untuk membuat sebuah pola pada kain melalui proses pencelupan pada pewarna. Dasar kesenian Shibori mirip seperti membatik, di mana beberapa bagian kain ‘dilindungi’ agar tidak terkena pewarna. Tujuannya agar hasil akhirnya membentuk pola sesuai dengan motif yang di inginkan. Batik Shibori adalah perkawinan dua budaya yang menghasilkan karya seni budaya dengan teknik baru yaitu membatik dengan teknik pencelupan pada pewarna dan teknik perlindungan kain untuk membentuk suatu motif batik. Sampai saat ini setidaknya ada 560 teknik perlindungan kain untuk memunculkan motif yang berbeda-beda pada pembuatan Batik Shibori.

Berikut adalah macam-macam tekhnik perlindungan kain yang sering di gunakan dalam pembuatan Batik Shibori.

1. Arashi Shibori

Seperti namanya , teknik arashi ini akan membuat motif batik seperti hujan di kalai badai. Cara membuatnya cukup simple. Kain media pembuatan batik shibori di lilitkan pada sebuah tiang. Selanjutnya lilitan tersebut di ikat kencang dengan benang di sepanjang tiang, kemudian kain tersebut kita dorong sampai membentuk sebuah kerutan. Nah tinggal kita celupkan warna yang kita sukai, cukup mudah kan.

2. Itajime Shibori

Itajime Shibori merupakan teknik membatik shibori dengan cara melipat dan menjepit kain. Teknik melipat dan menjepit ini dilakukan di antara dua buah kayu lalu mengikatnya dengan tali atau benang. Pada perkembangannya media kayu di modifikasi digantikan dengan akrilik yang di potong membentuk C- Klem. Biasanya teknik ini digunakan untuk membentuk pola batik shibori bernuansa kotak-kotak.

3. Kanoko Shibori

Batik Shibori dengan teknik pembuatan kanoko akan menghasilkan pola lingkaran acak. Cara membuat batik shibori dengan teknik inindilakukan dengan cara mengikat bagian tertentu dari kain. Pola lingkaran yang dihasilkan tergantung pada seberapa ketat ikatan kain dan pada bagian mana ikatan itu di terapkan.

4. Kumo Shibori

Membuat batik shibori menggunakan teknik kumo sedikit rumit. kita cukup melipat kain secara halus dan merata. Selanjutnya kain tersebut diikat bagian-bagian yang berdekatan satu sama lain, sehingga terlihat membentuk pola seperti sarang laba-laba. Hasil dari teknik kumo ini akan variatif dan indah. Dan juga harga jual untuk pembuatan menggunakan teknik ini relatif lebih mahal karena proses pembuatan yang sedikit memerlukan effort.

5. Miura Shibori

Teknik Miura merupakan salah satu teknik Batik Shibori yang unik. Teknik perlindungan kain ini dilakukan dengan cara mencabut bagian tertentu pada kain dengan menggunakan jarum kait tanpa simpul khusus apapun. Jadi kita cukup mengikat kain media batik dan melonggarkannya menggunakan tali. Nah motif yang di hasilkan dengan teknik ini akan nampak seperti pola air.

6. Nui Shibori

Nui Shibori adalah teknik perlindungan kain untuk membuat motif Nui. Teknik ini dilakukan dengan cara, kain yang akan di jadikan media batik di jelujurkan kemudian kain di ikat dengan benang dan akan menghasilkan sebuah kerutan yang rapat. Meski kelihatan simple dan mudah dilakukan hasilnya akan bervariasi dan indah tergangung bagaimana cara kita membentuk pola jahit pada jelujur kain yang akan kita ikat dengan benang.

Di Wisata Rumah Jiwa sendiri para warga dampingan diajarkan kreatifitas membuat macam-macam batik shibori. Diharapkan kreatifitas tersebut dapat dijadikan sebagai bekal ketrampilan mereka untuk survive melanjutkan kehidupannya di masyarakat.

Untuk pembelian batik shibori. Silahkan hubungi no WA: 0853 – 2796 – 6727
Sebagian hasil penjualan akan di donasikan untuk para kaum terlantar, odgj, dan sedekah.

Lokasi Galeri Seni Lukisan di Jogja

Jogja adalah kota budaya. Sebagai pusat perkembangan kesenian, Jogja memfasilitasi semua seniman untuk berekspresi. Tak terkecuali seni lukis. Di Jogja terdapat banyak galeri lukisan yang terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi oleh wisatawan. Mana sajakah itu?

Museum Lukisan Keraton Yogyakarta

Museum Lukisan Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan yang memiliki galeri seni, sehingga mengoleksi berbagai hasil lukisan dari pelukis terkenal di zamannya. Lukisan yang di koleksi adalah sosok visual Raja-raja terdahulu. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu belum terdapat kamera untuk memotret. Lokasi galeri lukisan ini berada di kasatriyan kraton. Museum ini buka setiap hari dari jam 08.00 – 13.30 WIB, kecuali hari jumat hanya buka sampai jam 13.00 saja. Untuk masuk pengunjung dikenai biaya Rp 5.000,00. Apabila menginginkan, pengunjung bias meminta didampingi oleh pemandu untuk berkeliling di sana.

Ullen Sentalu

Ullen Sentalu

Ulating blencong sejatine tataraning lumaku” yang berarti nyala lampu blencong (lampu yang dipergunakan saat pertunjukan wayang kulit) merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan. Adalah kepanjangan nama dari Ullen Sentalu. Lukisan di museum ini melengkapi cerita tentang peradapan pada zaman Kerajaan Mataram. Meskipun lokasinya di Jogja, sebagian dari koleksinya merupakan cerita tentang keratin solo. Awalnya museum ini merupakan koleksi pribadi, namun diubah menjadi museum yang dibuka untuk umum. Jam buka museum ini mulai pukul 08.30 – 16.00. untuk masuknya pengunjung dikenai biaya Rp 30.000,00 termasuk untuk welcome drink dan pemandu. Jangan ke sana hari senin tapi. Seperti museum pada umunya, saat hari senin museum ini libur.

Museum Affandi

Museum Affandi

Museum ini khusus memamerkan karya-karya affandi. Ada sekitar 300an karya dari affandi yang bias dinikmati oleh wisatawan.  Awal mula museum ini adalah galeri seni yang diresmikan di tahun 1962. Lalu pada tahun 1974 diresmikan Prof Ida Bagus Mantra sebagai Direktur Kebudayaan Umum menjadi museum yang terbuka untuk umum. Pengunjung hanya perlu membayar RP 25.000,00 saja untuk masuk museum ini dan mendapatkan welcome drink. Namun untuk pengunjung yang membawa kamera dikenai biaya lagi sebesar Rp10.000,00. Museum ini buka dari jam 09.00 WIB – 16.00 WIB.

Taman Budaya Yogyakarta

Taman Budaya Yogyakarta

Taman Budaya Yogyakarta adalah salah satu lokasi Galeri Seni Lukisan di Jogja yang sangat terkenal. Lokasinya di Jalan Sri Wedani No 1, Yogyakarta. TBY memiliki kompleks gedung yang berfungsi sebagai tempat pameran, pertunjukan, dan berbagai kegiatan seni lainnya. TBY merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat ini memiliki banyak ruangan Taman Budaya Yogyakarta adalah sarana wisata yang terletak di Jalan Sri Wedani No 1, Yogyakarta. TBY memiliki kompleks gedung yang berfungsi sebagai tempat pameran, pertunjukan, dan berbagai kegiatan seni lainnya. TBY merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Taman Budaya Yogyakarta adalah sarana wisata yang terletak di Jalan Sri Wedani No 1, Yogyakarta. TBY memiliki kompleks gedung yang berfungsi sebagai tempat pameran, pertunjukan, dan berbagai kegiatan seni lainnya. TBY merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wisata Rumah Jiwa

Lukisan di Wisata Rumah Jiwa Hafara ini berbeda dengan semua lukisan yang ada. Lukisan ini istimewa karena buatan anak-anak dengan gangguan jiwa. Melukis menjadi terapi bagi mereka. Bagi yang ingin mengunjungi  salah satu lokasi Galeri Seni Lukisan di Jogja bisa ke Wisata Rumah Jiwa  yang berada di Gambiran, RT 11, Blawong 2, Trimulyo, Jetis, Bantul. Dengan nomor hotline : 085327966727